Life

Belajar Memiliki Prinsip Kasih yang Penting

Prinsip kasih?

Prinsip kasih merupakan pilar utama bila kalian ingin mengerti apa itu “Kasih”. Seperti halnya sebuah bangunan, kualitas bangunan itu ditentukan dari pondasi seperti apa yang digunakan. Seindah dan semewah apapun bangunan tersebut, bila pondasinya tidak kuat maka suatu saat akan rubuh dan hancur. Kasih juga memerlukan “pondasi” dan ada begitu banyak hal yang dikategorikan sebagai prinsip kasih. Mungkin seringkali kalian juga bingung membedakan manakah prinsip yang penting untuk dimiliki. Karena sebagai manusia terbatas, kita sulit memiliki semua prinsip tersebut. 

Artikel ini akan membantu kalian mendapatkan inspirasi bahwa dengan memiliki minimal empat (4) prinsip kasih, kalian sudah dapat membina hubungan kasih tanpa rasa khawatir. Namun untuk dapat memiliki empat (4) prinsip tersebut, kalian perlu mempersiapkan iman, hati dan pikiran dengan baik. Karena tanpa ketiga hal tersebut, prinsip kasih yang akan aku bagikan ini akan sia-sia untuk dimiliki. Perlu diingat bahwa keberhasilan bukan ditentukan dari tulisan dalam artikel ini namun dari diri kalian masing-masing. 

Empat (4) prinsip kasih?

Banyak dari kalian yang telah menjalani hubungan kasih antara lawan jenis, sesama anggota keluarga maupun pertemanan namun sering berakhir dengan kecewa. Awalnya mungkin kalian merasa bahwa kesalahan ada pada pasangan, anggota keluarga maupun teman kalian. Namun setelah berganti pasangan atau mendapatkan teman baru pun, kalian juga masih mengalami kecewa. Lalu kalian mulai berpikir mungkin terdapat kesalahan dalam ekspektasi hubungan kasih yang kalian jalani. Hal itu memang salah satu alasan yang menyebabkan sebuah hubungan kasih (terutama hubungan dengan pasangan) berakhir dengan kecewa. Tetapi “ekspektasi” belum sempurna bila tidak memiliki elemen pendukung lainnya. Sebuah “pondasi” yang baik memerlukan elemen pendukung, maka pertanyaannya elemen seperti apa yang diperlukan?

Elemen yang aku maksud disini adalah prinsip. Dalam hidup kalian tentu memiliki prinsip yang berbeda antara satu sama lain, misalnya “A” memiliki prinsip keadilan sedangkan “B” memiliki prinsip kejujuran. Maka dari itu dalam melakukan pekerjaan, “A” akan berusaha bersikap adil namun “B” akan berusaha bekerja jujur. Nah, prinsip juga berlaku dalam “pondasi” kasih yang ingin dimiliki karena memiliki ekspektasi tanpa prinsip pada dasarnya adalah sia-sia. Mengapa sia-sia? Karena bila kalian menurunkan standar ekspektasi dalam hubungan kasih, memang dapat mengatasi beberapa permasalahan yang terjadi. Namun kalian belum mengerti alasan sebenarnya dari tindakan yang kalian lakukan. Pada tahap ini mungkin ada sebagian dari kalian yang mulai bertanya, “Prinsip seperti apakah yang aku perlukan untuk menghasilkan pondasi yang kuat?” 

Prinsip kasih

1. Ciptaan Tuhan yang berharga

Setiap kita seringkali melupakan prinsip yang penting ini, apapun keyakinan yang kalian percayai tidak lepas dari fakta bahwa kita adalah ciptaan. Bahkan dalam ajaran agamaku dituliskan bahwa aku diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Bukankah hal ini berarti kita memiliki nilai yang sangat berharga? Bila aku percaya diciptakan dengan begitu berharga oleh Tuhan maka aku percaya bahwa sesamaku manusia juga memiliki nilai yang sama berharganya. Sehingga baik orang kaya atau miskin, putih atau hitam semuanya adalah sama nilainya. Maka dari itu salah satu dasar kasih adalah dengan memahami prinsip ini. Dengan memahami prinsip ini, kita dapat mengasihi orang lain yang berbeda secara fisik maupun suku, agama dan ras (SARA). Tetapi yang membuat kita masih sulit mengasihi adalah karena sikap atau karakter dari sesama manusia, seperti halnya insiden yang baru terjadi di Amerika Serikat (USA).

Kisah George Floyd

George Floyd, seorang penduduk ras kulit hitam yang berusia 46 tahun saat insiden ini terjadi di kota Minneapolis, Amerika Serikat. Melalui informasi berita yang aku dengar bahwa pada tanggal 25 Mei 2020, George ditangkap oleh polisi karena dituduh menggunakan uang $20 (dua puluh dollar) palsu ketika berbelanja. Kemudian polisi memborgol kedua tangannya dan menggiringnya masuk ke dalam mobil. Tetapi George yang merasa kesulitan bernafas, menolak untuk masuk ke dalam mobil dan menjatuhkan diri. Tindakan yang kemudian dilakukan oleh salah satu polisi adalah dengan menindih leher George dengan lututnya. Memang tindakan ini dikenal sebagai salah satu aksi yang dilakukan polisi ketika membekuk penjahat, namun yang membedakan adalah jangka waktunya. 

Beberapa berita mengatakan bahwa seorang polisi ras kulit putih yang bernama Derek Chauvin menindih selama kurang lebih tujuh (7) menit sehingga mengakibatkan George meninggal. Selama ditindih, George telah mengaku tidak dapat bernafas namun polisi itu mengabaikannya. Kematian dari George ini memicu kerusuhan besar yang terjadi karena diduga “Konflik Rasisme” terhadap penduduk ras kulit hitam. Berita kronologi lengkapnya dapat kalian baca disini.

Kasus rasisme juga banyak terjadi di Indonesia, dimana umumnya terjadi karena belum memahami prinsip kasih sebagai ciptaan Tuhan yang berharga. Memang prinsip itu tidak serta merta membuat kita mampu mengasihi sesama manusia, adanya perilaku sosial lain yang menyebabkan terjadinya kasus diatas. Jangan biarkan kita sebagai ciptaan Tuhan yang berharga ini, hanya memiliki nilai $20 (dua puluh dollar) seperti dalam kasus George Floyd. Atau bahkan seperti cerita perampokan yang mengakibatkan kematian hanya karena uang senilai Rp 7.500 (tujuh ribu lima ratus rupiah). Mari kita memahami dan melakukan prinsip kasih ini agar kita dapat saling mengasihi sesama manusia yang berbeda sekalipun.

Anak-anak Ciptaan Tuhan
Anak-anak Ciptaan Tuhan yang berharga Designed by Pressfoto / Freepik

2. Mengasihi diri sendiri lebih dahulu

Apakah kalian pernah dikasihi oleh orang lain seperti halnya ia mengasihi dirinya sendiri? Bila pernah, berarti kalian sudah memahami prinsip ini. Tetapi apakah kalian pernah berpikir bagaimana melakukannya kepada orang lain? Dan mengapa orang lain dapat mengasihi diriku seperti dirinya sendiri? Jawabannya adalah dengan mengasihi diri sendiri lebih dahulu. Sekilas jawaban tersebut memberikan kesan negatif karena hanya memikirkan diri sendiri. Memang kalimat tersebut akan memberikan kesan negatif bila hanya berhenti sampai disana, tetapi bagaimana caranya agar kita dapat mengasihi orang lain bila untuk mengasihi diri sendiri saja tidak mampu? Pertanyaan tersebut muncul ketika aku sedang menggumulkan tentang pasangan hidup.

Ketika memasuki usia remaja, aku mulai memiliki rasa ketertarikan terhadap lawan jenis namun dalam masa itu pula, aku mengalami krisis identitas yang mengakibatkan rendah diri atau kurang rasa percaya diri. Singkat cerita sampai dengan lulus kuliah dan bekerja, aku tetap menjalani hidup tanpa pasangan alias jomblo. Banyak temanku yang sudah beberapa kali ganti pasangan namun aku masih dalam zona nyamanku. Sampai suatu saat, aku memutuskan untuk belajar meningkatkan rasa percaya diri agar dapat memiliki seorang pasangan. Memang mencari pasangan yang tepat itu tidaklah mudah, apalagi persaingan juga tinggi bila ingin mendapatkan yang terbaik. Setelah mencari di gereja, kantor bahkan referensi dari teman, aku belum menemukannya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menggunakan aplikasi online dating. Karena begitu banyak aplikasi online dating, aku hanya mencoba aplikasi yang telah aku tulis dalam artikel sebelumnya yang berjudul Mengenal Aplikasi Online Dating — Part 1

Pengalamanku mengasihi diri sendiri

Namun usahaku dalam dunia online dating juga tidak mudah. Perlu waktu sekitar dua (2) tahun sampai aku menemukan pasangan hidup yang bersedia berjalan bersamaku sampai dengan saat ini. Dalam masa pencarian itu, muncul pertanyaan “Mengapa begitu sulit mendapatkan pasangan hidup?” dan “Apakah aku diciptakan untuk hidup sendiri?”. Lalu aku teringat akan salah satu ayat dalam Alkitab yang berbunyi “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan segenap akal budimu, dan perintah yang serupa dengan itu ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kalimat yang terakhir memberikan inspirasi bahwa aku harus mengasihi diriku sendiri agar orang lain dapat mengasihiku dan akupun mengasihinya seperti diriku sendiri. Dan setelah aku mencoba melakukan hal tersebut, Tuhan mengirimkan pasangan hidup bagiku.

Apakah prinsip kasih ini berlaku bagi semua orang? Aku rasa iya, karena mengasihi diri sendiri yang dimaksud disini bukan “mengasihani diri” (self pity) namun menjaga dan merawat diri sendiri agar kita memiliki standar bagaimana mengasihi orang lain sehingga kelak kita dapat menjaga dan merawat orang lain juga. Yuk, mulai untuk belajar prinsip mengasihi diri sendiri lebih dahulu sebelum dapat mengasihi / dikasihi orang lain.

Prinsip kasih kedua
Mengasihi diri sendiri -- Designed by pexels

3. Membuka diri terhadap kasih

Kalian pernah mengalami trauma? Trauma yang terjadi bervariasi dan dampaknya pun berbeda setiap orang. Ada yang mengalami trauma akibat perceraian keluarga atau ada yang mengalami trauma akibat kekerasan yang dirasakan di masa kecil. Trauma tersebut menghasilkan dampak seperti selalu curiga terhadap orang lain atau bahkan menutup diri kepada semua orang. Aku sendiri memiliki trauma terhadap saus tomat karena pernah dipaksa makan saus tomat akan tetapi pizza tetap menjadi salah satu makanan favoritku. Bila kalian memiliki trauma seperti atau mungkin memiliki trauma lain yang ingin dibagikan silahkan komentar dibawah ya. 

Prinsip kasih yang berikutnya adalah membuka diri terhadap kasih, dan prinsip ini berhubungan erat dengan salah satu akibat trauma yang dihasilkan. Misalnya adalah menutup diri terhadap orang lain dan hal yang paling sering aku dengar dari orang yang mengalami trauma adalah agar tidak mengalami kejadian buruk “itu” lagi. Kemudian aku mencoba refleksikan bila hal tersebut terjadi padaku. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama yakni dengan menutup diri dari kasih, tetapi aku teringat akan sebuah renungan singkat dalam persekutuan gerejaku.

Bagaimana mengatasi trauma?

“Gudang rumah penuh dengan barang-barang lama yang telah usang dan tidak terpakai lagi, sehingga tidak dapat membeli barang baru yang diperlukan.” Solusi yang terbaik adalah dengan membuang barang-barang lama sehingga barang-barang baru bisa masuk. Kasih yang baru juga tidak bisa masuk bila kita tidak membuang “barang-barang lama”. Memang melakukannya tidak semudah mengatakannya, maka dari itu ketika menghadapi masalah aku selalu diajarkan untuk berdoa kepada Tuhan. Dengan berdoa, aku dimampukan untuk membuang “barang-barang lama” agar dapat menerima kasih yang baru. Namun kasih yang baru belum tentu bebas dari masalah, dan hal ini yang biasanya membuat kita enggan melepaskan “barang-barang lama” yang kita miliki.  

Kasih baru yang kita terima tentu memiliki resiko dan tidak dipungkiri bahwa salah satu resiko yang dapat terjadi adalah kejadian buruk di masa lalu yang ingin kita hindari. Namun yang menjadi pertanyaanku adalah sampai kapan kalian akan menyimpan barang-barang tersebut? Karena cepat atau lambat barang-barang itu akan dibuang juga, maka tidak masalah bila membuangnya lebih cepat. Kalian perlu ingat bahwa semakin lama kalian menyimpannya maka semakin lama juga kalian akan menerima yang baru. Karena aku percaya bahwa dalam segala sesuatu yang baru terdapat juga hal baru yang akan membawa kita menuju suatu titik baru. Teruslah berdoa sampai kalian siap untuk membuka diri terhadap kasih yang baru.

Prinsip kasih ketiga
Membuka diri terhadap kasih -- Designed by wirestock / Freepik

4. Menolak menyerah dan bersabar terhadap kasih

Kemudian prinsip berikutnya adalah tidak menyerah dan bersabar terhadap kasih. Prinsip ini merupakan kelanjutan dari prinsip sebelumnya yaitu tentang membuka diri terhadap kasih. Bila kalian memutuskan untuk membuka diri dan kalian belum mendapatkan kasih yang kalian harapkan maka jangan menyerah dahulu. Beberapa orang yang aku kenal memilih untuk kembali menutup diri terhadap kasih namun menurutku hal ini perlu dihindari. Dengan menutup diri berarti akan kembali ke titik awal dan kalian tidak akan mencapai garis akhir seperti cerita di bawah ini.

Ada seorang wanita yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Sejak kecil hingga dewasa segala kebutuhannya dapat terpenuhi sampai suatu hari kelak, ia bertemu dengan seorang lelaki yang menyukainya. Kemudian mereka pun berpacaran dan melalui hari-hari bahagia selama kurang lebih lima (5) tahun. Dikarenakan usia yang terus bertambah maka wanita ini mencoba bertanya mengenai rencana pernikahan kepada pacarnya, namun jawaban yang ia terima tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Maka dengan sedih, wanita ini memutuskan hubungan dengan pacarnya. Dalam kesedihannya, wanita ini merasa bahwa ia telah pilihan melakukan pilihan yang tepat namun ia juga memiliki keraguan dari pilihannya. Setelah beberapa tahun berlalu, wanita ini tetap menutup hati terhadap kasih. Namun kemudian ia coba membuka hati kembali tetapi dengan keraguan bahwa ia tidak akan menemukan kasih yang baru. Sehingga ketika ada lelaki yang mendekatinya, ia lebih memilih untuk menjauh.

Prinsip kasih dalam bercocok tanam

Cerita di atas menunjukkan bahwa kita seringkali menyerah terlalu cepat terhadap kasih. Faktanya kasih itu tidaklah instan dan kita perlu memberi waktu untuk kasih bertumbuh. Seperti halnya bila kalian menanam suatu tanaman, hasilnya tidak terjadi dalam satu malam saja. Bila kita menyerah di tengah jalan maka kita tidak akan mendapatkan hasil apapun dari tanaman itu. Mungkin hasil yang kita dapatkan belum memuaskan, namun kita bersedia untuk mencobanya kembali dengan melakukan sedikit penyesuaian. Dalam hal ini kita tidak langsung menyerah sebelum mendapatkan hasil yang memuaskan. Bila dalam bercocok tanam saja kalian dapat bersabar, maka dalam hal kasih kesabaran juga diperlukan.

Selain memberikan waktu bertumbuh, dalam bercocok tanam juga perlu memberikan pupuk dan air secara rutin. Nah, dalam mengusahakan kasih juga diperlukan “pupuk dan air” yang cukup agar tumbuh dengan baik. Bila semua hal di atas telah kalian lakukan maka yang terakhir adalah berdoa karena pada akhirnya Tuhanlah yang memberikan pertumbuhan itu. Sekalipun kalian telah menggunakan pupuk terbaik dan air murni, bila Tuhan tidak memberikan pertumbuhan maka kalian tidak mendapatkan hasil dari tanaman itu. Dalam ajaran agamaku terdapat suatu perintah yaitu “Berdoa dan Bekerja”, artinya kita tidak hanya melakukan salah satu saja tetapi keduanya untuk mendapatkan hasil terbaik. Mari kita melakukan hal yang sama dalam mengusahakan kasih. Karena segala sesuatu yang kita lakukan disertai dengan doa pasti akan menghasilkan yang terbaik bagi kehidupan kita.

 

Prinsip kasih keempat
Bersabar untuk kasih bertumbuh -- Designed by Rawpixel / Freepik

Kesimpulan

Empat (4) prinsip yang telah aku tulis di atas merupakan prinsip kasih yang perlu kalian pahami dan lakukan dalam kehidupan. Setiap prinsip tersebut saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Dengan memahami dan melakukan prinsip tersebut, kalian dapat membangun sebuah “pondasi” dalam hubungan kasih. Maka dari itu, pada bagian awal artikel ini aku mengatakan bahwa empat (4) prinsip ini akan memberikan inspirasi kepada kalian bagaimana membentuk suatu hubungan kasih yang tidak mengecewakan.

Bagaimanapun juga artikel ini tidak akan berguna bila kalian hanya membaca dan tidak melakukannya. Pada awalnya tentu akan sulit namun seiring waktu berjalan, prinsip kasih tersebut akan melekat dalam diri kalian sehingga hubungan kasih yang indah akan terbentuk. Dan bila kalian menemukan kegagalan ketika menjalaninya, berjanjilah untuk tidak langsung menyerah. Karena aku percaya setiap manusia memiliki rancangan yang telah dipersiapkan baginya dan rancangan itu bukanlah bencana melainkan rancangan indah yang telah Tuhan siapkan.

Bagi kalian yang ingin membagikan pengalaman yang serupa, silahkan untuk mengisi kolom komentar di bawah. Mungkin cerita pengalaman kalian dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang yang membacanya. Sekian artikel kali ini dan semoga bermanfaat dalam membangun hubungan kasih kalian.

Thank you and see you in the next post..!!

2 pemikiran pada “Belajar Memiliki Prinsip Kasih yang Penting

Tinggalkan Balasan