Life

Hidup Adalah Suatu Kegagalan

Hidup adalah suatu kegagalan, apakah kalian yakin?

“Hidup ini adalah suatu kegagalan!” ucap seorang yang gagal ketika menghadapi suatu masalah. Setiap orang tentu pernah mengalami kegagalan dan cerita kegagalan tiap orang berbeda-beda. Ada yang pernah gagal mengendarai sepeda, gagal mendapatkan pujaan hati, gagal mendapatkan pekerjaan. Lalu apakah sebuah kegagalan itu langsung membuat hidup kita masuk dalam kategori “Gagal”?    

Sebuah kegagalan tidak dapat dijadikan patokan bahwa hidup kalian adalah suatu kegagalan. Mungkin kalian sudah mencoba berkali-kali, tetapi hasilnya tetap gagal. Kemudian kalian beralih kepada hal lain, dengan harapan menghapus kegagalan yang telah kalian alami. Namun kalian kembali berhadapan dengan kegagalan yang membuat kalian frustasi dan tidak mau mencoba lagi. Dalam hal ini, aku pun pernah melakukannya dan hampir semua orang pernah melakukannya. Seperti dalam cerita berikut ini tentang suatu kegagalan dalam hidup.

Pengalaman ketika hidup adalah suatu kegagalan bagiku

Aku adalah seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga berlatar belakang Tionghoa (Chinese). Budaya dari keluarga Tionghoa pada umumnya mengajarkan bahwa sebagai anak laki-laki harus memiliki mental yang kuat dan tidak mudah menangis. Namun, sejak kecil tinggi badanku di bawah rata-rata dan badanku juga kurus, keadaan ini membuatku menganggap bahwa pertumbuhanku bermasalah sehingga aku menjadi orang yang kurang percaya diri. Alasan inilah yang membuatku mudah menangis sekalipun telah dididik agar menjadi seorang yang tangguh.

Aku mulai menyadari rasa kurang percaya diri saat memasuki tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama), dimana saat itu kondisi keluarga yang juga sedang mengalami masalah secara finansial dan ditambah dengan kondisi fisik yang aku miliki. Maka dari itu, hal dapat kulakukan adalah menjadi unggul dalam bidang akademik agar dapat menutupi kekuranganku yang lain serta diterima dan memiliki teman. Masa-masa SMP kulewati dengan menggunakan metode tersebut, sehingga aku dapat lolos dari bullying yang rentan terjadi terhadap mereka yang tidak memiliki teman.

Memasuki tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas), masalah yang sama tetap masih terjadi namun metodeku menjadi unggul dalam bidang akademik, tidak sesukses seperti sebelumnya. Hal ini dikarenakan aku pindah ke sekolah yang memiliki standar akademik yang lebih tinggi dibandingkan sekolah SMA lain. Nilai yang kudapatkan cenderung stabil, dengan sedikit variasi antara nilai 30 hingga 50 (nilai maksimum 100) sehingga aku perlu mengikuti les tambahan. Pada saat inilah aku merasa bahwa hidupku adalah suatu kegagalan.

Kegagalan hidup yang semakin memburuk

Hidup ini adalah suatu kegagalan bagiku, karena aku merasa semakin menambah beban orang tuaku untuk memenuhi kebutuhan les tambahan tersebut. Memang dengan bantuan les tersebut, aku berhasil melewati tingkat pertama SMA. Namun masalah semakin memburuk, karena aku masuk dalam kelas yang berisi murid-murid terpilih dan tentunya mereka memiliki nilai akademik yang baik. Aku semakin merasa dikucilkan karena situasi tersebut, ditambah lagi dengan pelajaran yang tidak kumengerti. Setelah melewati ujian pertengahan semester, aku mendapati nilaiku yang dibawah rata-rata dan terancam untuk tinggal kelas. Aku berdoa agar Tuhan tidak membiarkanku tinggal kelas karena selain tidak ingin menanggung malu, aku juga tidak ingin menambah beban lagi untuk orang tuaku yang telah bekerja keras. 

Di saat itu, aku benar-benar hampir putus asa karena doaku belum terjawab sedangkan nilai ujianku masih belum berubah banyak. Tetapi Tuhan mengirimkan seseorang yang mau mengajarkanku tepat pada waktunya. Kami pun membentuk kelompok belajar dan mempersiapkan diri dengan berbagai soal ujian yang mungkin muncul. Singkat kata, ujian akhir pun dapat kulewati walaupun bukan dengan nilai yang sempurna, tetapi cukup mengangkat nilaiku masuk dalam nilai rata-rata kelulusan. Dengan nilai yang pas-pas an, aku tidak tinggal kelas dan kemudian memilih untuk masuk dalam kelas lain pada tingkat akhir SMA.

Aku merasa hidupku gagal, namun masih tetap dikasihi. Tuhan terus mengasihiku walaupun tidak ada hal yang dapat kubanggakan dalam hidupku saat itu. Dan kedua orang tuaku pun tetap mendukung baik secara finansial, yakni kebutuhan untuk berbagai les tambahan dan juga mengantarkan serta menjemputku saat belajar kelompok hingga larut malam. Secara tidak sadar, aku telah menerapkan salah satu prinsip kasih seperti dalam artikel Belajar Memiliki Prinsip Kasih yang Penting. Dan dalam hal ini, kegagalan tidak berhasil mengalahkanku karena aku memiliki orang-orang yang selalu mendukung dan mengasihiku. Bagaimana dengan kalian? 

Hidup adalah suatu kegagalan namun tetap dikasihi
Hidup dalam kegagalan namun tetap dikasihi -- Designed by Freepik

Menyerah dan gagal?

Bila cerita diatas adalah pengalaman pribadiku, maka cerita berikut ini adalah dari seorang yang aku kenal. Dalam cerita ini, aku akan menggunakan nama Noto untuk menjaga privasi dari orang yang bersangkutan.    

Berawal ketika Noto mulai bekerja di salah satu perusahaan yang cukup terkenal pada waktu itu. Sebagai salah satu karyawan baru, Noto berhasil mendapatkan hati atasannya karena ia berhasil mencapai target yang diberikan. Setelah beberapa tahun bekerja, Noto memutuskan untuk memulai usahanya sendiri dalam bidang yang serupa. Noto cukup berhasil dengan usahanya dan membuat perusahaannya semakin berkembang, bahkan mungkin Noto belum pernah mengalami suatu kegagalan yang menghambatnya. Namun seperti sebuah roda yang terus berputar, Noto pun harus mencicipi kegagalan.

Noto mencoba usaha dalam bidang lain dengan menggunakan tabungan yang dimilikinya, namun usaha yang dilakukannya belum mencapai titik keberhasilan. Noto telah mencoba berbagai cara bahkan beralih dari satu bidang ke bidang lain, dengan harapan dapat mencapai keberhasilan seperti di masa lalunya. Setiap peluang disambut oleh Noto dengan antusias, hingga membuat Noto tidak memiliki spesialisasi dalam suatu bidang pekerjaan. Setiap kegagalan yang dihadapinya tidak membuat Noto berhenti mencoba sekalipun tidak berhasil secara finansial. Selain kegagalan yang Noto hadapi dalam pekerjaannya, kegagalan dalam relasi dengan beberapa keluarga juga terjadi dan sempat membuatnya frustasi serta enggan untuk berkomunikasi.

Relasi saat hidup dalam suatu kegagalan

Noto adalah seorang yang memiliki pendirian yang kuat, sehingga sering dianggap “keras kepala” oleh orang-orang yang mengenalnya. Setiap keputusan yang diambil oleh Noto adalah keinginannya dan Noto jarang mendengar saran yang diberikan oleh orang lain, karena Noto ingin menunjukkan keberhasilan yang dicapainya dan mendapat pujian dari orang lain. Namun sifat yang dimiliki oleh Noto membuatnya mengalami kegagalan yang lebih pahit karena pada saat Noto gagal, bukan dukungan yang ia dapatkan melainkan berbagai cercaan dari orang-orang yang mengenalnya, bahkan dari beberapa keluarga juga menyalahkan keputusannya yang terlalu terburu-buru. Walaupun begitu, Noto tetap menjaga relasi keluarga inti dengan menggunakan tips yang telah aku tulis dalam artikel Belajar Menjaga Relasi Dengan Pasangan

Relasi Noto dengan beberapa keluarga pun retak dan menyebabkan Noto memilih untuk tidak berkomunikasi secara rutin dengan mereka. Tidak jarang Noto memilih untuk tidak hadir dalam berbagai pertemuan keluarga, hanya karena ingin menghindari bertemu dengan salah satu anggota keluarga yang membuatnya sakit hati. Berbagai kegagalan yang dialami oleh Noto membuatnya mengerti bahwa untuk mencapai keberhasilan, ia perlu untuk merubah sifat buruk yang dimilikinya. Memang perubahan tersebut tidak terjadi dalam satu malam, dan Noto perlu bertahun-tahun untuk merubah sifat dan karakter yang telah melekat dalam dirinya sejak kecil. Dan cerita Noto mungkin akan berbeda bila saat berhadapan dengan kegagalan atau cercaan yang diterimanya, ia langsung menyerah. 

Pengalaman yang dapat kita pelajari dari cerita Noto ini adalah bahwa keberhasilan tidak abadi, akan ada masa dimana kegagalan menjatuhkan kita. Namun selama kita tidak menyerah terhadap kegagalan dan bersedia menerima saran dari orang lain, maka saat berhadapan dengan “hidup adalah suatu kegagalan” akan dapat kita lewati. 

Hidup adalah suatu kegagalan dan jangan menyerah
Hidup boleh gagal, namun jangan menyerah -- Designed by Jigsawstocker

Kesimpulan

Setiap orang tentu pernah mengalami kegagalan dan cerita mereka berbeda satu sama lain. Namun setiap kegagalan yang kita alami tidak mendefinisikan bahwa seluruh hidup adalah suatu kegagalan, karena kegagalan merupakan salah satu proses untuk mencapai keberhasilan.

Kalian perlu memahami bahwa kegagalan dalam hidup dapat mempengaruhi otak kita, seperti yang ditulis dalam artikel berikut tentang “Memahami Rasa Sakitnya Kegagalan”. Seperti dalam cerita pengalamanku, kegagalan yang aku alami membuat aku kurang percaya diri dan memiliki ketakutan bila tidak memiliki teman. Tetapi dengan menyadari bahwa Tuhan sangat mengasihiku serta dukungan dari orang tua membuatku mampu melewati kegagalan tersebut. Sedangkan cerita Noto mengajarkan bahwa dalam menghadapi kegagalan, kita tidak boleh langsung menyerah karena saat kita menyerah maka kita akan menerima bahwa hidup adalah suatu kegagalan. Dan ketika mengambil suatu keputusan, kita harus terbuka terhadap saran dari orang lain agar keputusan yang diambil benar-benar matang sehingga tidak menyesal di kemudian hari. 

Bagi kalian yang ingin membagikan pengalaman yang serupa, silahkan untuk mengisi kolom komentar di bawah. Mungkin cerita pengalaman kalian dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang yang membacanya. Sekian artikel kali ini dan semoga bermanfaat dalam menghadapi hidup kalian yang gagal.

Thank you and see you in the next post..!!

Satu pemikiran pada “Hidup Adalah Suatu Kegagalan

Tinggalkan Balasan