Life

Menonton bioskop sendirian?!

Menonton bioskop sendirian?

Dari judul post ini kelihatannya sesuatu yang horror bagi generasi zaman ini. Berapa banyak dari kalian yang setuju bahwa menonton bioskop sendirian itu membosankan? Aku yakin sebagian besar kalian akan setuju dengan kalimat di atas. Karena menonton sendirian memang membosankan (kalau tidak percaya silahkan dicoba di bioskop terdekat).

Bagi yang belum pernah menonton bioskop sendirian mungkin akan bertanya, “emang seperti apa rasanya nonton bioskop sendirian”. Atau mungkin akan berpikir, “kalau filmnya bagus kan tidak bakal bosan, karena tujuan awalnya adalah untuk nonton film bukan aktivitas yang lain”. Tidak ada yang salah atau benar dalam hal ini. Maka itu dalam artikel ini, aku bakal membagikan sedikit pengalamanku nonton bioskop sendirian (maklum jomblo.. hahahaha).

 

menonton bioskop sendiri
watching cinema alone

Menonton bioskop sendiri pertama kali

Memang pengalamanku menonton bioskop sendirian tidak seperti foto di atas kok, tapi pengalamanku ini waktu nonton tanpa bersama teman ataupun pasangan. Kejadiannya sudah cukup lama, waktu zaman film Transformer: Revenge of the Fallen lagi heboh di bioskop. Jadi ketika film itu rilis, aku masih sibuk dengan persiapan sidang skripsi yang jatuh tempo seminggu lagi. Alhasil aku ditinggal nonton (padahal ngak ada yang ngajakin juga, lagi mengarang indah nih) sama teman-teman yang sudah selesai dengan skripsi mereka dan sudah bebas nonton. Kemudian setelah selesai skripsi, aku pun ikut pergi jalan dengan keluargaku untuk menghilangkan stress setelah sidang skripsi. Namun saat itu keluargaku ada keperluan dan kami berpencar mencari kegiatan masing-masing. Dengan hanya berbekal uang 100 ribu rupiah, aku pun masuk ke bioskop untuk membeli tiket.

Petualanganku menonton bioskop sendirian dimulai...

Hari itu adalah hari sabtu, dimana banyak orang yang juga datang untuk menonton. Maka antrian pun cukup panjang (karena saat itu tiket online belum banyak dimanfaatkan) dan aku pun ikut mengantri demi menonton film Transformer itu. Jujur ketika mengantri, aku belum yakin akan nonton film Transformer karena aku ngak nonton film yang pertama, tapi berhubung ngak ada film lain yang menarik, maka Transformer lah yang kupilih. Akhirlah sampai juga di depan counter, langsung dengan yakin aku menanyakan tentang jadwal film Transformer tersebut. 

Mba penjual tiket langsung menunjukkan jadwal yang terdekat dengan jam saat itu, namun belum aku berkata-kata, mba penjual tiket bilang kalau studionya sudah penuh. Karena aku belum sempat memperhatikan maka aku langsung bertanya apakah ada jadwal lain yang dekat dengan jam saat itu? Mba penjual tiket hanya berkata jadwal berikutnya adalah satu setengah jam lagi. Karena film Transformer saat itu sudah rilis sejak dua minggu yang lalu, sehingga hanya satu studio yang memutar filmnya. Sempat terpikir untuk mengganti film, tapi aku coba minta mba penjual tiket untuk menunjukkan lagi jadwal yang pertama. 

Perjuanganku belum selesai...

Ketika dibuka, aku langsung melihat ada kursi kosong di baris B yang berwarna hijau, langsung aku bilang itu ada yang kosong mba! Mba penjual tiket berkata “kalau ini hanya untuk satu orang dan posisinya agak di tengah baris”. Kemudian aku pun bertanya, “maksudnya gimana ya mba?” Kan aku cuma mau beli satu tiket. Mba penjual tiket pun agak sedikit kaget dan bertanya balik kalau benar aku hanya mau membeli satu tiket untuk konfirmasi. Maka dengan yakin aku berkata, “iya hanya satu saja”. Kemudian mba penjual tiket tersebut berkata “oh, kalau hanya satu ya tidak ada masalah apa-apa” disertai dengan senyuman yang aneh. 

Saat itu, aku belum mengerti arti dari senyuman itu. Tapi dalam pikiranku, “mba nya kok nyebelin ya, senyum senyum ngak jelas kayak belum pernah lihat orang nonton film bioskop sendirian saja”. Dan pengalaman itu membuatku malas kalau pergi nonton bioskop sendirian lagi (lebih baik nunggu muncul DVD nya).

Petualangan menonton bioskop sendirian berikutnya...

Pengalaman menonton bioskop sendirian pun terjadi kembali, ketika teman-teman mengajak pergi menonton bioskop secara mendadak pada malam Natal. Aku tidak ingat judul film apa yang dipilih, hanya saja film tersebut masih baru sehingga diputar di studio terbesar dalam bioskop itu. Dan karena beli tiketnya mendadak, maka kita tidak bisa duduk bersama dan terpaksa kita semua terpencar dalam satu studio paling besar. Ketika itu film sudah hampir mulai, jadi studio pun sudah penuh dan aku pun segera duduk di tempat sesuai dengan tiket yang dibeli. Awalnya semua terlihat normal, pasangan muda di kanan-kiri kemudian di baris depan ada beberapa anak muda juga. Ok, aku rasa suasana cukup mendukung tinggal menikmati film-nya.

Masalah pun mulai terjadi setelah 20 menit pertama film diputar. Saat itu ruangan sudah sangat gelap dan mataku pun hanya bisa melihat samar samar keadaan sekitar. Pertama, pasangan di sebelah kiriku mulai berpegangan sambil tertawa di tengah adegan komedi film tersebut. Selang beberapa menit kemudian, pasangan di sebelah kiriku mulai merangkul pasangannya dengan sedikit bercanda diantara mereka. Disini aku berpikir bahwa hal tersebut normal karena mungkin ruangan yang cukup dingin. 

Bagian yang menegangkan...

Dilanjutkan dengan anak muda di depanku yang juga merangkul erat pasangannya. Rangkulan tersebut lebih cocok bila disebut memeluk. Dan tak lama setelah itu pasangan di sebelah kiriku mulai berciuman (aku pikir penglihatanku yang agak samar). Maka aku mencoba mengalihkan pandanganku ke sisi yang lain yakni pasangan di sebelah kananku. Awalnya terdengar suara aneh (tapi aku yakin bukan suara dari film) maka aku pun melihat ke arah kananku. Di saat itulah, tiba-tiba aku terkena serangan gagal fokus karena pasangan di sebelah kananku juga sedang berciuman bahkan lebih intense dari pasangan sebelah kiri.

Disaat itu, aku sudah tidak ingat film apa dan bagian apa yang sedang aku tonton karena kedua pasangan ini sangat mengganggu fokusku. Film pun selesai dan kita berkumpul kembali, lalu temanku bertanya bagaimana dengan filmnya dan dengan nada meyakinkan, dia berkata “Bagus kan!” Aku hanya bisa menjawab “Bagus!”, dan teringat kembali suasana saat itu. Aku merasa seperti berada dalam film tersebut karena film itu benar-benar nyata dan terjadi langsung di sebelah kanan dan kiriku. Itu adalah pengalaman pertamaku menonton di bioskop luar negeri (Singapura) dan bisa jadi ini adalah hal yang biasa terjadi di sana. Seakan-akan aku sedang ikut bermain film namun hanya sebagai pemeran figuran.. Hahaha.

berciuman di dalam bioskop
kissing in cinema

Kesimpulan

Setelah membaca tulisan di atas, kalian seharusnya sudah memiliki pandangan bagaimana rasanya bila menonton di bioskop sendirian. Jadi bila ingin menonton di bioskop sebaiknya jangan sendirian, karena menonton sendirian dapat meningkatkan resiko serangan gagal fokus secara tiba-tiba. Maka itu berhati-hatilah, jangan sampai hal tersebut terjadi kepada kalian semua.

Artikel ini tidak bertujuan agar kalian berhenti menonton di bioskop, tapi berhentilah untuk menonton di bioskop sendirian. Dan jangan meninggalkan teman kalian hanya karena ingin menonton lebih dulu. Ingat menonton bersama-sama itu lebih seru dan artikel lain dalam blog ini juga tidak kalah seru daripada menonton bioskop sendirian.  

Thank you and see you in the next article…!!

Tinggalkan Balasan